Inspiration

Ayah Aku Rindu Padamu – Ayahku Pahlawanku

June 7, 2017

Dalamnya lautan dapat terselami dan terukur, tapi hati manusia siapakah yang dapat mengukurnya

Bagiku, Ayahku bukanlah sosok yang baik sebagai seorang Ayah. Ada atau tidak ada rasanya tidak ada bedanya. Itu yang selalu ada di benakku. Ketika berhadapan dengan Ayah, kami tidak bicara dan apa pun yang Ayahku katakan kepadaku rasanya sepertinya salah dan tak dapat kuterima. Aku benci ayahku, karena ia selalu membuat susah Ibuku. Tiap hari Ibuku harus bekerja keras membanting tulang, bukan hanya sebagai Ibu tapi juga harus sebagai seorang Ayah.

Untuk membayar tunggakan biaya sekolah, seringkali aku dihukum dan aku merasa dipermalukan di depan teman-teman sekelasku. Hanya karena tunggakan uang sekolah yang tidak dibayarkan, seringkali aku datang ke sekolah hanya untuk dihukum di perpustakaan sekolah. Dan ketika aku pulang ke rumah, Ibuku menyuruhku untuk memanggil Ayahku yang sedang bermain judi untuk segera pulang. Jika Ayah tidak pulang, maka ini artinya aku juga tidak boleh pulang. Aku hanyalah seorang anak yang mau tidak mau hanya dapat menuruti perintah Ibuku. Aku berjalan menyusuri gang gelap hanya untuk memanggil pulang Ayahku, yang bermain judi di tempat yang sama, dan melihat langsung ia yang ternyata setelah dipanggil tetap tidak mau pulang. Jadi aku menantikan Ayahku di tempat itu, karena jika aku tidak pulang bersama Ayahku, maka Ibuku akan marah sekali.

Apa pun yang Ayahku lakukan, di mataku dia selalu salah, bahkan ketika ia mencoba berbuat baik terhadapku. Yah, mungkin ini karena luka yang kupendam selama ini. Waktu berlalu dan aku pun tumbuh dewasa. Aku menjadi semakin galak dan kasar terhadap Ayahku. Bahkan pernah suatu kali pernah aku berkata tanpa berpikir tentang perasaan Ayahku, “Jika aku jadi Mama, aku sudah lama akan tinggalkan Ayah.”

Waktu pun berlalu dan aku semakin berlaku seenaknya terhadap Ayahku, karena berusaha membalas perlakuannya. Dengan memperlihatkan kesuksesan yang kuraih, aku menjadi semakin angkuh di atas hal yang sebenarnya tidak bernilai. Dan suatu kali aku mendengar Ayahku sakit. Dia menderita Cherosis, penyakit yang mendapat julukan “Silent Killer.” Hal ini disebabkan ia di masa lalunya yang tidak menjaga hidup. Minum-minuman beralkohol, merokok, dan ngobat. Itulah yang ada di benakku. Aku dan adikku harus bekerja keras agar dapat membayar pengobatan Ayahku. Kami terpaksa menjual banyak asset serta beberapa kendaraan kami saat Ayah dirawat di rumah sakit. Rasanya aku tidak dapat berpikir lagi. Saat itu yang ada di benakku hanyalah, asalkan Ayahku tidak terlalu sakit dengan perutnya yang membuncit besar itu. Namun semuanya berubah ketika aku melihat dengan kepalaku sendiri Ayahku muntah darah. Begitu banyak darah yang berhamburan keluar dari mulutnya dan itu disebabkan oleh pembuluh darahnya yang pecah. Dengan wajah pucat karena shock aku berusaha mengelap semua darah itu, karena saat itu kami sedang duduk di dalam mobil orang. Aku berpikir bahwa itu adalah saus spaghetti yang baru saja kami makan. Saat itu kami sedang berada di Jepang.

Dengan segera kami membawa Ayahku ke rumah sakit. Saat di ruang UGD, Papaku berkata dengan suaranya lemas, “Kenapa kamu menangis, seperti orang tidak punya Tuhan saja. Sudah sana lanjutkan pelayananmu, Papa tidak apa-apa.” Hari itu hari Minggu dan memang seharusnya aku melayani di sebuah gereja di Tokyo. Kami sekeluarga mau pergi untuk melayani dan setelah itu melanjutkan perjalanan ke Osaka.

Hari itu, dengan tubuh gemetar, tangan yang begitu dingin, dan pikiran yang kacau, aku tetap melanjutkan perjalananku untuk melayani. Aku berusaha tetap tenang seperti yang Ayahku bilang, “Aku punya Tuhan, aku tidak boleh takut.”

Setelah pelayanan selesai aku segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ayahku. Ayahku telah melewati operasi, dan dokter sudah menginfokan kepada kami bahwa kondisi ayah sedang kritis. Sebagai anak pertama aku cuma berpikir, apa yang bisa kulakukan yang terbaik untuk Ayahku, aku mau berusaha melakukannya. Pembuluh darah Ayahku pecah dan dipasang 13 ring. Operasi berjalan dengan lancar dan keesokan harinya dokter memanggilku. Bersama seorang teman yang membantu menjadi translator bahasa Jepang, aku mendengar bahwa hidup Ayahku tinggal 4 bulan lagi, dan jika ia kuat bisa sampai 6 bulan. Mendengar kabar itu dari dokter, aku dan adikku menangis. Saat itu rasanya hati ini sangat hancur dan tidak dapat berkata apa-apa lagi. Setelah mendengar kabar itu, aku dan adikku sepakat untuk tidak memberitahukan kepada Ibuku.

Ayahku saat sudah sakit

Dengan waktu yang masih tersisa dan terasa sangat singkat itulah, aku membuka hatiku untuk menyayangi Ayahku dengan sepenuh hati. Namun tetap saja ini terasa sangat singkat sekali. Berkali-kali aku memeluk Ayahku dan berdoa kepada Tuhan. Tuhan, tolong jangan ambil Ayahku, beri waktu lagi untuk Ayahku. Aku mau membahagiakan Ayahku, bagaimanapun caranya. Aku merasa sangat menyesal. Yang menjadi kesalahanku selama ini adalah tidak pernah melihat kebaikan yang ada pada Ayahku.

Ketika aku mengadakan pendekatan dengan Ayahku, di situlah Ayahku banyak sekali berpesan kepadaku. “Laura hidup itu harus punya kasih.”

“Kamu jangan pernah berharap pada orang lain, karena jika kita berharap pada orang lain, kita akan mudah untuk kecewa.”

“Dalamnya lautan dapat dihitung, tapi dalamnya hati manusia tidak ada yang dapat mengukurnya.”

“Kalau kamu mau melakukan proyek untuk Tuhan, kamu tidak usah takut karena DIA-lah yang akan menyediakan apa pun yang kamu perlukan, lakukan itu dengan tulus.”

Dan masih banyak lagi pesan yang ditinggalkan oleh Ayahku. Di antaranya adalah, “Jika nanti Papa mati, kamu jangan menangis. Untuk apa menangis karena Papa sudah ada di sorga bersama dengan Tuhan. Kamu harus hidup benar agar kita bisa berkumpul bersama-sama lagi.”

Dan 7 bulan kemudian setelah vonis dokter, Papa meninggal dunia. Memang saat itu kami tidak ada yang menangis karena mengingat pesan Papa. Akan tetapi, 4 tahun setelah kepergian Papa setiap kali aku mengingat pesan-pesan Papa, aku menangis. Ini karena semua pesan Papa sangat menguatkanku. Aku baru menyadari bahwa memang Ayahku tidaklah meninggalkan banyak harta. Namun Ayahku telah meninggalkan harta yang tak dapat dibeli dengan uang, yaitu iman yang ditinggalkan untuk anak-anaknya agar kami sanggup menatap hari depan.

Foto bersama papa saat ulang tahun 1th

Setelah kepergian Ayahku, beberapa tahun kemudian aku bertemu dengan senior pramugariku. Dulu ketika mengalami kecelakaan pesawat, aku sempat koma dan saat itu seniorku dan Ayahku mengantarkan aku berobat ke Singapura. Saat seniorku mendengar bahwa Ayahku sudah meninggal, ia menangis dan berkata bahwa Ayahku adalah orang yang baik. Ia menceritakan bahwa saat aku sedang koma, Ayahku sedih sekali. Ayah berjalan kaki dari rumah sakit ke Jalan Orchard sambil menangis. Apa yang kupikir saat itu adalah, Ayahku tidak perduli padaku karena ketika aku tersadar dari ruang operasi dan terbangun, aku tidak melihat ada siapa pun yang menemaniku. Padahal saat itu yang kutahu seharusnya Ayahkulah yang menemaniku. Dan banyak lagi yang kudengar tentang Ayahku, “Papamu itu dulu bossnya preman”, “papamu itu dulu mafia tapi setelah dia bertobat dia berubah total dan hidupnya diubah kan Tuhan luar biasa, ia adalah orang yang bisa memegang prinsip hitam-hitam, putih-putih”. Namun semua sudah terlambat, Andai aku tahu lebih awal mengenai Ayahku, ahhh… bukan aku tidak tahu sebenernya aku tahu, hanya saja aku tidak mau tahu dan terlalu diam menahan pembicaraan dengan ayahku… andai saja aku tahu bahwa saat itu Ayah begitu mengkhawatirkanku.

Kini barulah aku mengerti bahwa dulu bukan karena Ayahku tidak mau atau tidak melakukan tugasnya sebagai seorang Ayah, ini mungkin karena Ibuku yang tidak mengijinkan atau mempercayakan kepadanya tugas sebagai seorang kepala keluarga di tengah keluarga. Ini menjadi pelajaran bagiku untuk dapat menghargai suamiku kelak. Aku mau menjadi seorang wanita yang tugasnya menopang suami, karena letak keberhasilan pria terdapat pada wanita yang ada di belakangnya.

Fotoku sekeluarga

Sekarang aku bisa menjadi berhasil seperti sekarang ini, semua adalah berkat Ayahku. Ia tidak meninggalkan harta yang berharga, namun ia meninggalkan harta yang tidak dapat dibeli dengan uang dan nilainya tak terhingga, yaitu iman untuk masa depan.

“Berjalanlah dengan jujur, jangan serahkah. Hidup itu harus punya kasih dan care pada orang lain. Jangan pernah berharap pada manusia. Jangan takut menghadapi hari esok, karena hari esok ada kesusahannya sendiri. Jadi orang tidak usah khawatir seperti orang yang tidak punya Tuhan saja, namun tetaplah terus melayani. Selalu percaya bahwa Tuhan telah merancang hidup yang indah untukmu.”

fotoku bersama Ayahku

Sekarang, aku begitu merindukan Ayahku. Andai saja Ayahku masih hidup, maka apa pun yang Ayah mau, selama aku masih bisa atau mampu untuk memberikan yang terbaik, aku mau. Namun sekarang semua itu sudah terlambat. Sekarang, yang ada hanyalah rasa rindu dan air mata yang menetes saat melihat nisan yang terukir nama Ayahku. Sesering mungkin aku mengunjungi kuburan Ayahku, namun tidak ada lagi canda dan tawa.

Bagiku, Ayahku adalah pahlawan sejatiku. Tidak ada orang yang akan bisa menggantikan posisi Ayahku.

Bagiku, Ayahku adalah pahlawan sejatiku. Tidak ada orang yang akan bisa menggantikan posisi Ayahku. Dan alangkah bahagianya jika seorang anak saat ini masih memiliki ayah, nikmatilah, jagalah dan sayangilah hubunganmu dengan orang tuamu.

  • Naskah ini adalah satu dari 72 cerita di buku AYAHKU PAHLAWANKU untuk menyambut 72 Tahun kemerdekaan RI, yang akan terbit di bulan Agustus 2017

 

Rumah duka

sesuai janjiku Ayah, untuk tidak menangis. Akan tetapi setelah itu dan sampai hari ini aku masih menangis. Aku Rindu padamu, Ayah

Special Thank You:

Thank you untuk semua yang sudah mendukung, saat papa sakit.. di rumah duka sampai penguburan. Banyak sekali yang membantu hingga tidak bisa menyebutkan satu persatu dan kami sekeluarga berdoa, biar Tuhan yang membalaskan kebaikan saudara-saudara.

Perubahan Hidup untuk Mencapai Kesuksesan
Mereka Memanggilku Bionic Woman

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply