Inspiration

Memulai Dari Apa Yang Ada Untuk Menggapai Impianmu

June 19, 2017

“Apa yang harus kulakukan?”

“Mengapa ini terjadi lagi?

“Bagaimana aku bisa bangkit kembali?” Tangisku saat berdoa.

Terus terang ini memang tidak mudah, bagaimana mungkin aku harus mengalami patah kaki lagi. Yahh… ini bukan untuk yang pertama kali. Kakiku patah ketika mengalami kecelakaan pesawat terbang. Saat itu usiaku 19 tahun dan sedang bertugas sebagai seorang pramugari. Menjadi seorang pramugari adalah impian yang sudah kupendam sejak kecil. Namun semuanya hancur sekejap hanya dalam hitungan menit. Sebuah kecelakaan tragis telah mengakibatkan luka –luka sangat parah di sekujur tubuhku. Tulang pipiku yang kanan hancur. Tulang tanganku yang kanan bergeser jatuh ke bawah. Tulang pinggangku patah. Tulang kakiku juga patah, dan daging betisnya hilang seukuran tangan. Tragis bukan? Seorang gadis yang sejak kecil sudah memendam impian menjadi seorang pramugari, ternyata sekarang terbaring lumpuh di ranjang rumah sakit. Sambil berbaring terus menunggu, mengamati detik jarum jam yang bergerak. Rasanya menit demi menit bergerak sangat lambat. Totalnya ada 19 kali operasi yang mesti kujalani waktu itu, belum lagi masa yang kuhabiskan duduk di atas kursi roda.

Sekarang setelah sekian tahun itu semua berlalu, aku harus kembali memakai tongkat penopang kaki. Tulang kakiku retak lagi saat aku sedang berada di Hongkong. “Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi orang banyak lagi? Bagaimana ini Tuhan?” Jeritku dalam doa. Sampai sekarang orang sudah kerap melihatku di berbagai media cetak dan televisi. “Apa kata mereka nanti?” Pertanyaan ini terus mengiang dalam benakku. Selama 1 bulan aku terus menangis dan mengurung diri di rumahku. Namun itu semua tidak membuahkan apa pun. Ini semua masih ditambah lagi aku harus memikul beban biaya hidup yang tak habis-habisnya, juga biaya pengobatan dan biaya  operasi yang terus membengkak. Aku mesti menanggung semuanya ini sendirian. Terus terang, malas rasanya kalau mesti menjawab pertanyaan yang kerap dilontarkan orang, “Memangnya perusahan tempatmu bekerja saat kau kecelakaan dulu tidak mau menanggung?”

Kerap kita terlalu sibuk menilai dan melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, juga betapa sulitnya hidup ini, sampai kita lupa bahwa kita juga punya potensi dan sesuatu yang dapat dikembangkan dan dibagikan. Begitulah, akhirnya kutemukan apa yang dapat kulakukan untuk menghadapi tantangan hidup. Lucu yah.. Itulah manusia, saat ia sedang terjepit barulah ia sadar tentang potensi dan apa saja yang masih ia miliki. Mungkin selama ini itu semua masih terpendam. Di saat aku mengalami keterpurukan terdalam, aku berusaha bangkit dan membangun semuanya kembali dari apa yang ada padaku, yaitu kisah hidupku. Aku mulai menulis sebuah kisah yang diawali tentang masa kecilku, dengan puncaknya pada peristiwa kecelakaan pesawat yang telah mengubah hidupku untuk seterusnya. Penulisan ini menuntut waktu dan jerih payah yang tidak ringan. Akhirnya, kisah ini dibukukan dengan judul “Unbroken Wings,” dan terbit di bulan Desember 2008.

Lalu, bagaimana aku yang tadinya seorang pramugari lantas berubah menjadi seorang penulis. Awalnya aku memang tidak bisa menulis, namun berkat ketekunan, mau berbagi pengalaman dengan orang lain dan belajar dari mereka, juga oleh bantuan dari banyak pihak, aku jadi semakin mahir menulis. Buku “Unbroken Wings” masih terus dicari orang sampai sekarang. Buku ini berisi tentang pelajaran kehidupan yang tak lekang oleh waktu. Pelajaran yang kupetik saat menjalani profesi sebagai pramugari, lalu mengalami peristiwa kecelakaan pesawat, yang disusul dengan masa pemulihan panjang setelah kecelakaan, dan yang terpenting pengalaman dekat kematian yang telah mengubah hidupku selamanya. Pengalaman ini telah menyadarkanku tentang untuk apa kita hidup di dunia. Sejak aku mulai menuliskan kisah hidupku yang akhirnya dibukukan, sampai sekarang “Unbroken Wings” telah terjual hingga ratusan ribu copy.

Di tahun 2014, berbekal naskah awal yang telah direvisi, aku pun memberanikan diri untuk membuka sebuah penerbit kecil-kecilan milik sendiri. Growing Publishing tepatnya adalah usaha penerbitan yang kudirikan. Aku punya impian bahwa nantinya selain menulis naskah hidupku sendiri, penerbit ini akan membantu para penulis lain untuk menerbitkan buku-buku hasil karya mereka sendiri. Tak terasa sampai sekarang Growing Publishing telah menerbitkan banyak buku. “Perlahan namun pasti,” adalah motto yang selama ini telah menggerakan penerbit untuk terus maju.

Mengelola dan menjalankan usaha penerbitan milik sendiri memang tidak mudah. Namun aku berpikir, jika ini mudah, tentu sudah ada banyak orang membuka usaha penerbitan milik sendiri. Justru karena sulit, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Kuncinya cuma satu: mulailah dari apa yang ada padamu, dan mau terus belajar.

You should have a big dream, but start from small.

Terus terang, keadaanku sekarang yang harus berjalan dengan bantuan tongkat sangat membatasi mobilitasku. Ditambah lagi, aku harus terus menjalani pengobatan. Namun aku beranggapan, jika seseorang sudah menemukan apa yang menjadi tujuan dan panggilan hidupnya di dunia, halangan tidak perlu selalu jadi hambatan. Ia akan selalu punya passion untuk menggenapi panggilan hidupnya dan mewujudkan impiannya. Banyak orang mengatakan, “Aku tidak punya modal. Banyak kesulitan, gangguan dan kekecewaan.” Percaya tidak, aku mendirikan “Growing Publishing” dengan modal sangat kecil. Aku memulai semuanya dari apa yang ada padaku, dan sedikit demi sedikit itu semua berkembang. Teruslah belajar. “You should have a big dream, but start from small.”

Tidak perduli berapa kali kita jatuh, seorang pemenang selalu punya cara untuk bangkit lagi. Jadi bagaimana denganmu hari ini?

Mau fokus hanya pada kekurangan dan kesulitan atau mau bangkit untuk mengembangkan potensimu dan apa yang ada padamu?

Buku 100 Billionaire Mindset bisa didapatkan di seluruh toko buku Gramedia atau pesan langsung melalui whatsapp +62 852-7321-6340

Dan kini… buku 100 Billionaire Mindset sudah tersebar diseluruh Indonesia bahkan sampai keluar Negeri.  Aku percaya itu semua hanya karena kebaikan Tuhan saja.

Mereka Memanggilku Bionic Woman

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply